Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2015

Bercumbu dengan Kemarahanmu

Bismillahirrohmanirrohim...
Oh Wahai... Sejak kemarin aku merasa tak enak hati, hatiku berdebar-debar entah kenapa. Bahkan aku sampai susah tidur dibuatnya. Rasa hati yang seperti itu, kalau boleh aku gambarkan, seperti saat kau ingin mengucapkan cinta tapi kau sudah takut untuk ditolak, tapi kau harus tetap mengatakannya meski kau harus mengucapkannya didepan orangtua si wanita.
Kau pernah berada pada posisi itu, kawan? Ahh.. aku rasa tidak pernah. Aku pun juga tidak pernah berada pada posisi itu. Hahaha. Tapi seperti itu tidak enaknya rasa yang aku rasakan sejak kemarin. Dan wahai... apakah kau tahu bahwa aku sudah menemukan jawabannya kenapa hatiku merasa tidak enak?
Adikku, Rofa', yang senang sekali duduk-duduk di bale depan rumahku dan menghadap ke timur. Dia adalah adikku yang pertama, dia suka sekali makan mie. Tapi jangan sekali-sekali ajak dia makan sayur. Bisa muntah-muntah dia. Jika nanti kau main ke rumahku dan ada lelaki tinggi tapi tidak gemuk dan memiliki hidung yang a…

Aku Adalah Kemunafikan

Aku adalah Topeng Topeng yang menutupi wajah yang bopeng Padahal diri masih 'ngempeng' Dan juga tidur beralaskan seng
Aku adalah Muka Yang berisikan mimik-mimik dua Kadang terlihat memuja Kadang terlihat menghina
Aku adalah ketika adzan Dzuhur berkumandang Panggilan datang untuk berhadapan Tertuang semua dalam untaian Sampai tak sanggup lagi mengucapkan
Aku adalah dirimu sebelum ditutupi kemunafikan Yang hadir karena tali persaudaraan Yang tidak peduli atas fitnahan Yang tidak merasa dipinggirkan
Aku adalah dirimu sebelum ditutupi kemunafikan Yang menganggap semua adalah kawan Yang berencana untuk membuka hutan Dan menjadikan itu sebagai lahan garapan
Aku adalah bentuk kesetiaan Kesetiaan terhadap keyakinan Bahwa tidak ada pertemuan Tanpa diakhiri perpisahan
Aku adalah kamu Kamu yang membenci kebenaran Meski datang dari persahabatan Dan hancur dari persahabatan
--- Pembaringan Syaiful Bahri

Semesta Laksa

Kulihat hujan turun
Pertanda berkah datang berduyun-duyun
Pedagang masih saja bercengkerama
Menjajakan apa apa yang dia punya

Sang Singa dan Sang Raja masih cari suara
Tapi tidak melihat derita bangsa
Bagaimana cara untuk menutupi
Pedih hati yang sangat menyiksa diri

Tuhan... Kapankah derita ini pergi
Kami memohon dengan rendah diri
Bahwa tiada lagi yang patut kami datangi
Untuk meminta dibebaskan dari kemelut diri

Kami tau Kau anugerahi kami 'Surga'
Namun berikan juga kami kekuatan
Agar kami mampu melawan
Tuduhan-tuduhan dari Semesta

---
Pembaringan
Syaiful Bahri

Pada Suatu Hari Nanti

Karya : Supardi  Djoko Damono
Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini,
Kau akan tetap kusiasati.
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.

Antara Adzan & Sruputan Teh Hangat

Bismillahirrohmanirrohim...
Hai, kamu... Iya kamu. Aku tulis surat kesekian buat kamu. Kamu yang masih sedikit beku, meski sebagian sudah cair. Heuheuheu. Bagaimana keadaanmu?
Ahh... Bahkan aku yang tau keadaanmu saja masih lancang bertanya seperti itu disurat ini. Apakah aku ini bodoh? Tidak, aku tidak bodoh. Hanya saja aku tidak tahu harus memulai darimana percakapan ini. Dulu, aku lupa bagaimana kita bercakap-cakap saat pertama kali. Bahkan sampai aku memaksa diriku untuk mengingat, tetap tidak berhasil.
Aku hanya ingat saat itu aku menemanimu sampai pagi. Entah atas motivasi apa aku menemanimu, bahkan waktu itu mengobrol sesekali saja tidak pernah.
"Aku lagi diluar nih, ada yang nyamperin aku ngajak kenalan" Pesan singkatmu waktu itu. 
Dengan segala harga diriku sebagai pria, entah kenapa pula aku menjadi agak 'cemburu' dan 'takut'. Padahal sah-sah saja seandainya kamu dan lelaki itu berkenalan. Tapi karena sudah terlanjur begitu perasaanku, dengan lantang aku b…